Dari buku Sumarni Bayu Anita,S.Sos.,M.A.yang
berjudul ”Pempek Palembang” yang mendeskripsikan identitas wong kito melalui
kuliner local kebanggaan wong Palembang. Dari buku ini saya tertarik pada BAB
IV yang berjudul “Wong Palembang dan pempeknya” pada bab ini membahas tentang
hubungan antara orang-orang Palembang dengan pempeknya. Adapun teorinya,menurut
Kathryn woodward tentang identitas yang dibentuk lewat penandaan
perbedaan,sehingga membentuk system penggolongan yang setidaknya menjadi dua
kelompok yang saling berlawanan wong Palembang dan wong non-palembang dan
pemikiran Mary Douglas mengenai penciptaan orang dalam dan orang luar serta
ko9ntruksinya dalam struk social. Adapun dari bab ini bagian yang saya anggap
menarik yaitu pada bagian ke-13 yaitu:
Ø
Pempek kelas atas sebagai wacana dominan.
Dari identifikasi
model ini,nyatanya pempek bagi wong Palembang memang menciptakan kelas-kelas
yang berdampak pada perilaku mereka sendiri dalam mengonsumsinya. Adapun pempek
kelas atas sebagai wacana domoinan sering kali muncul sebagai”rupa”pempek yang
layak dijadikan sebagai ikon kuliner kota Palembang. Pada dasarnya para
produsen pempek dipalembang tidak akan pernah kehilangan konsumen,hal in karena
seluruh wong Palembang dikota Palembang itu sendiri adalah sasaran dasar yang
tidak akan pernah habis. Apapun kelas pempek yang dibuat akan selalu ada
konsumen yang akan menikmatinya.konsumen pempek memang tidak memandang gender,usia,agama,profesi,etnis,maupun
posisi politik.
Contoh bentuk konsumi pempek yang ditunjukkan untuk sasaran
pasar kelas atas adalah penyajian pempek sebagai ikon kuliner kota Palembang
oleh pemerintah daerah setempat dan para tamu agungnya. Meski masyarakat
Palembang diketahui memiliki keramah-tamahan dan sikap terbuka terhadap para
tamu,sekalipun bangsa Asing, berbagai souvenir yang mengesankan untuk dibawa
pulang seperti songket,kerajinan kayu,keramik,timah,batu-batu,permata,bahkan
makanan yang enak sering kali menjadi hal yang wajib untuk dipersembahkan
kepada para tamunya. Rasa pempek merupakan kategori terakhir yang peneliti buat
untuk membedakan kelas-kelas pempek pada kelas bawah ,rasa yang diberikan oleh
pempek dan cuko emamg berbeda dengan kelas atas sebagai pempek Palembang tetap
menganggapnya dipinggirkan meski secara kontestasi masih terusterjadi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar